Syiah Itu Sesat Dan Menyesatkan, Bahkan Mereka Tidak Mengaku Nabi Muhammad, Menghina Aisyah Dan Beberapa Sahabat. Bacalah Klarifikasi Ini


Lalu, bagaimana perilaku kita mengahadapi Syiah ini. Apa harus diberantas?

Kalau dapat ya harus diberantas. Tapi, jangan hingga merusak. Ya ada ukurannya. Ada beberapa Habaib yang menyatakan bahwa orang-orang Syiah itu halla dzabhuhum (halal dibunuh). Kalau Sidogiri nggak. Sidogiri ikut cara Walisongo (yang tidak memakai kekerasan). Cara para sunan itu terbukti banyak akhirnya dalam membuatkan Islam. Mereka tidak memakai kekerasan.

Salah satu pernyataan yang sering dikutip oleh orang Syiah ialah dawuh Imam Syafii: “Kalau menyayangi Ahlul Bait itu dianggap Rafidhi (Syiah), maka biarlah insan dan jin menyaksikan bahwa saya ialah orang Rafidhi”. Bagaimana berdasarkan Kiai?

Dawuh Imam Syafii itu disalahgunakan oleh mereka. Kecintaan Imam Syafii terhadap Ahlul Bait beda jauh dengan cinta Ahlul Baitnya orang-orang Syiah. Orang Syiah itu Hubbu (cinta) Ahlul Bait tapi Bughdu Ashhâhbi Rasûlillâh (membenci Shahabat-Shahabat Rasulullah saw). Sedangkan Imam Syafii menyayangi Ahlul Bait dan juga menyayangi para Shahabat.

Hadits-hadits Rasulullah saw yang menyuruh kita untuk meneladani Shahabat serta tidak membenci atau memaki mereka, oleh orang Syiah tidak dipakai. Sebab, kitab Hadits yang mereka pakai ialah al-Kâfi. Padahal al-Kâfi itu bukan sabda Rasulullah, tapi dawuh dari imam-imamnya orang Syiah. Itupun banyak pemalsuan.

Para imam-imam Syiah, menyerupai Sayyidina Hasan, Husain dan Ali Zainal Abidin,  juga sangat dihormati oleh Ahlussunnah. Apa memang benar imam-imam itu membuatkan fatwa Syiah?

Nggak... mereka itu hanya diaku-aku membuatkan paham Syiah. Banyak pemalsuan-pemalsuan terhadap mereka. Mereka tidak bilang begitu, tapi oleh riwayat Syiah dinyatakan bilang begitu.

Jumlah Syiah di Indonesia diklaim sekitar 1 hingga 3 juta, bagaimana cara yang baik untuk memberantas paham mereka ini  berdasarkan Kiai?

Ya didatangi ke rumahnya. Dengan cara berdialog. Tidak usah dibikin ramai-ramai. Soalnya kalau ramai-ramai nggak ada yang hasil.

Ada yang menyatakan bahwa shalat bagi orang Syiah ialah tiga waktu bukan lima waktu. Bagaimana sebenarnya hal ini?

Iya, berdasarkan mereka waktu shalat itu ialah pagi yaitu subuh; lalu siang yaitu shalat dzuhur dan ashar; dan malam, yaitu shalat maghrib dan isya’. Jadi, berdasarkan mereka shalat dzuhur dapat dikumpulkan dengan ashar, shalat maghrib dapat dikumpulkan dengan isya, meskipun tidak dalam perjalanan. Jadi, hanya tiga waktu bukan lima waktu. Ajaran ini tidak sesuai dengan klarifikasi Rasulullah saw terhadap perintah shalat di dalam al-Qur’an. Rasulullah saw jelas-jelas menyatakan shalat itu lima waktu.

Salah satu perbedaan tajam Ahlussunnah dengan Syiah ialah problem nikah mut’ah. Syiah menyatakan nikah mut’ah itu halal. Sedangkan Ahlussunnah menyatakan haram. Kenapa demikian?

Memang, nikah mut’ah itu pernah dihalalkan. Tapi, itu jelas-jelas sudah dinasakh.

Apakah Kiai oke kalau MUI mengeluarkan fatwa bahwa Syiah itu sesat, menyerupai fatwa MUI untuk Ahmadiyah?

Syiah dan Ahmadiyah kan sama-sama sesat. Cuma, Ahmadiyah lebih parah lagi. Sampai menyatakan bahwa Mirza Ghulam Ahmad itu sebagai nabi. Syiah tidak hingga menyerupai itu. Tapi, di Syiah pun sebenarnya ada kelompok yang menyatakan bahwa malaikat Jibril salah memberi wahyu kepada Nabi Muhammad saw. Kata mereka, sebenarnya Allah menyuruh menurunkan wahyu  kepada Sayyidina Ali. Cuma malaikat Jibril salah.

Kelompok Syiah yang semacam ini terperinci kafir. Sebab, menyerupai dikatakan oleh Sayyid Muhammad al-Maliki, orang yang meyakini bahwa Allah ialah Tuhan Yang Mahaesa, tapi ia tidak mengakui kerasulan Nabi Muhammad saw, orang ini belum Islam. Soalnya rukunnya akidah itu kan akidah kepada Allah, para rasul, kitab suci, malaikat, hari selesai dan qadha-qadar.

Namun demikian, Syiah secara umum nggak menyerupai itu.

Beberapa orang  Syiah di Indonesia membantah bahwa Syiah membenci Shahabat, shalat tiga waktu dan al-Qur’annya berbeda?

Itu cuilan dari taqiyyah (menyembunyikan keyakinannya kalau kondisinya tidak memungkinkan). Memang, para ’kiainya’ Syiah menyuruh pengikutnya untuk taqiyyah pada ketika kelompok mereka masih kecil. Mereka menyuruh biar fatwa Syiah yang bertentangan dengan Ahlussunnah jangan hingga dibuka di hadapan orang lain.


Sumber: Buletin SIDOGIRI, edisi 19/Tahun II/Jum. Tsaniyah 1428

Post a Comment

0 Comments